Kamis, 07 Mei 2015

Kopi

Gelap adalah warnamu
Cangkir adalah tempatmu
Hangat adalah suhumu
Malam adalah waktumu

Gelapmu seakan beraliansi dengan malam hari
Cangkirmu seakan bersahabat dengan sebuah asbak
Hangatmu seakan bertentangan dengan dinginnya malam
Malammu seakan mengajak sampai larut, hingga terbit

Dirimu terikat oleh produsen
Ketika para insan yang maniak bergerombolan datang menghampiri
Dan tibanya, ia sabar dalam antrean
Hanya merekalah yang dapat melepas ikatanmu, yakni konsumen

Terbagi banyak rasamu
Dan perbedaan adalah relatif
Walaupun banyak tawaran
Aku tetap memilihmu, MIX

Minggu, 25 Januari 2015

Bab IV. PENGARUH SEBELUM DAN SESUDAH DIBERIKANNYA PENDIDIKAN POLITIK TERHADAP HASIL PEMILU 2014 ( KARYA TULIS )

4.1 Antusias Pemilih Pemula Terhadap Pemilu 2014

     Setelah adanya pendidikan politik dari berbagai sumber dan media, keikut sertaan rakyat Indonesia berubah drastis. Hampir dari seluruh warga Indonesia yang telah wajib akan menjalankan hak politiknya sangat acuh terhadap perkembangan politik di Indonesia.

     Antusias seperti inilah yang dinanti oleh generasi tua terhadap generasi muda, karena generasi muda ini berpendidikan baik, mengenal Teknologi maju, dan memperoleh banyak pengaruh dari televisi. Dengan tingkat pendidikan dan akses informasi yang lebih baik. Generasi muda ini cenderung paham perkembangan politik di Indonesia terkini, serta mengambil keputusan dengan rasional.

     Pemilih pemula yang berjumlah besar dan melek politik ini menjadi kekuatan tersendiri dalam pemilu. Antusiasme yang tinggi ini menunjukkan kesadaran politik semakin tumbuh dikalangan anak muda. Hal ini menjadi harapan baru ditengah menurunnya partisipasi politik diajang kontestasi nasional.

     Selain faktor kesadaran politik, membesarnya partisipasi dipemilu sebagai bentuk kepercayaan kepada Pemerintah atau sistem politik.

     Fenomena ini bisa dimaknai sebagai masih terjaganya tingkat kepercayaan pemilih pemula terhadap sistem politik yang sedang berlangsung. Sebab, jika tidak memiliki modal kepercayaan terhadap sistem politik, partisipasi pemilu pemula akan ikut tergerus.

     Antusiasme pemilih pemula dipengaruhi keyakinan bahwa pemilu dapat mengatasi persoalan-persoalan kronis bangsa. Korupsi dan kenaikan harga barang merupakan dua masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia dan menjadi perhatian bagi pemilih pemula.

     Media sosial merupakan wadah yang diakrabi anak-anak muda yang melek Teknologi dan menjadi strategi jitu untuk menggerakkan para pemilih pemula berbondong-bondong dateng kebilik suara.
  
-sultanajy

Senin, 18 Agustus 2014

MERAH PUTIH KITA

Lagu Indonesia Raya, yang dikemukakan oleh Wage Rudolf Supratman. Lagu yang tak asing lagi kita dengar ini menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh Nusantara di Indonesia yang pro terhadap ideologi "Indonesia" sebagai penerus Hindia Belanda dari pada dipecah menjadi beberapa kolonia. Lagu yang menghantarkan kepintu semangat ini dimainkan pada upacara bendera, yakni bendera Indonesia. Dinaikkannya penuh khidmat dan gerakannya yang diatur serta penuh haruan karena cintanya terhadap Indonesia, khususnya pada saat tenggal 17 - Agustus.
Mari mengulas masa lampau. Indonesia merdeka pada tanggal 17 - Agustus - 1945. Yang memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri, yakni yang sering kita ketahui ''bapak proklamator'' atau ''orang nomor satu RI'45" alias Soekarno. Sungguh, dedikasinya tak dapat kita balas yang telah mengorbankan demi bangsa ini. Banyak sekali yang kita ketahui tentang dia, tak mungkin aku jelaskan demikian banyaknya. Namun aku yakin, siapapun yang membicarakan tentang Soekarno, ia tahu siapa Soekarno serta langkah kongkret apa yang telah ia lakukan untuk Indonesia yang tercinta ini. Ia adalah manusia inspirasi banyak orang, termasuk diriku. Aku sangat terinspirasi dengan manusia itu. Mulai dari cara berpikirnya, ketegasannya, keberaniannya, dan demokratisnya yang lebih dari cukup untuk seorang jiwa pemimpin. Entahlah, apa yang akan terjadi pada bangsa ini, jika tanpa sosok bung karno.
Kembali ke poin diatas, Indonesia yang pada sebelumnya dijajah oleh Belanda selama tiga setengah abad. 350 tahun bukan waktu yang sebentar. Apa rasanya jika kita hidup pada zaman itu dan apa yang harus kita lakukan pada saat itu ? Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah mengusir para penjajah dan secepatnya segera ingin merdeka serta diakui oleh negara lain. Tetapi pernyataanku barusan hanyalah pernyataan belaka saja, artinya tidak mudah menjalankannya dan dalam menjalankannya tidak semulus paha Cherrybel. Penjajah yang datang hanya memanfaatkan kekayaan negara ini, itu menurut kolonial, seperti yang dilontarkan oleh Anies Baswedan, "cara berpikir yang mengatakan kekayaan bangsa adalah minyak, gas, tambang, adalah cara berpikir penjajah kolonial, kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya" .
Ya, aku setuju dan sependapat dengan mas Anies itu. Karena kekayaan terbesar bangsa adalah manusianya. Sebesar apapun, sebanyak apapun, setinggi apapun minyaknya, gasnya, tambangnya, apabila tak dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh manusianya, maka akan sia sia saja. Seperti di negeri ini, manusianya belum begitu mahir dalam memanfaatkan dan mengolahnya secara baik. 
Selain dibidang ekonomi, kita berbicara tentang pahlawan-pahlawannya. Mungkin tidak ada yang tahu berapa jumlah korban yang mati atau berapa jumlah korban yang menjadi salah satu budak kolonial. Hanya saja seseorang bisa menerkanya dengan pikiran dan mulut yang asbun. Kronisnya, para pahlawan melawan hanya dengan bambu runcing dan sebutir demi butir batu saja.
Dari kesimpulan diatas aku bermaksud meluruskan kiprah, pikiran yang masih melawan arus. Aku beri contoh.. Ketika upacara bendera sedang berlangsung aku heran, masih ada saja manusia-manusia yang tak tahu syukur, maksudku saat sang merah putih dinaikkan dan seluruh peserta upacara dimohon untuk hormat. Tetapi realistisnya masih banyak yang tidak hormat, mereka saling bercanda, membuat keributan sana-sini. Justru aku bersyukur, aku berpikir betapa susahnya para pahlawan kemerdekaan untuk menaikkan, mengobarkan, merah putih diujung tiang. Seperti yang ditegaskan oleh bung karno, "bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya (pidato hari pahlawan 10 nov 1961) " . Kita yang hidup dizaman reformasi, dizaman serba enak, serba bisa, mengapa tak hormat pada merah putih, mengapa bercanda didepan merah putih ? Secara tidak langsung mereka-mereka bercanda dan tak hormat kepada para pahlawan.
Saat mengheningkan cipta aku selalu merenungi dan merunduk, karena aku tahu tindakanku itu sebagai mana aku menghormati merah putih alias pahlawan kemerdekaan. Dan aku selalu berdoa untuk para pahlawan kemerdekaan, dan aku yakin, mereka-mereka mati syaid. Marilah untuk kita semua, baik generasi muda maupun lansia, aku memobilisasi kalian untuk berpikiran lebih bersih dan berjiwa dewasa untuk tanah air yang kita cintai dan kita banggakan ini.
Mari berbicara atau menelusuri sebenarnya merdeka. Indonesia adalah negeri yang diagungkan oleh pemerintah maupun rakyatnya. Akan tetapi, benarkah bahwa Indonesia sudah benar-benar merdeka ? Indonesia dianggap merdeka karena telah ada yang memproklamasikan kemerdekaan dan pengesahan dari negara lain. Merdeka bisa dikatakan jika menggambarkan rakyat yang bebas dari belunggu penjajah, dapat hidup layak, manusiawi. Rakyat yang belum berdeka menunjukkan bahwa negara itu belum merdeka.
Masih banyak rakyat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan, kelaparan, kebodohan, banyaknya korupsi merajalela oleh para pejabat, ini juga memperparah kemiskinan yang terjadi. Sebagian besar pula masyarakat Indonesia yang buta aksara dan menderita kebodohan adlah salah satu ciri negara Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Jika seperti ini aku ingat ucapan bung karno. "perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri" . Selain itu, banyak pemuda Indonesia yang belum mampu menghargai salah satu produk Indonesia. Hal ini disebabkan juga oleh cara pemerintah dalam mengelolah sumber daya alam maupun produk dalam negeri. Seperti yang aku jelaskan tadi, bahwasanya kinerja manusianya yang harus signifikan. Seperti kata bung karno, "aku tinggalkan kekayaan alam Indonesia biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengelolahnya" . Sebagian besar produk dengan kualitas pertama diekspor, sedangkan produk kedua dikonsumsi masyarakat dalam negeri.
Penjajah ekonomi secara nyata masih terjadi oleh bangsa asing di Indonesia penambangan emas terbesar dan berkualitas terbaik didunia oleh PT. Freeport. Dari penambang tersebut, 99% hasilnya dinikmati oleh PT.Freeport yang dikelolah oleh Amerika dan, 1% sisanya adalah untuk negara pemilik tanah. Bahkan, masyarakat terjajah meskipun sudah bersekolah ketingkat pendidikan yang cukup tinggi. Masyarakat yang mentalnya terjajah hanya memikirkan tentang jabatanpenting dan gaji yang luar biasa.
Salah satu hal yang dapat berpengaruh terhadap Nusantara kita terhadap Indonesia adalah budaya berbahasa Indonesia. Banyak sekolah di Indonesia yang menggunakan bahasa asing dilingkungan sekolahnya. Hal ini yang menyebabkan pelajar Indonesia terbiasa menggunakan istilah asing. Beberapa perusahaan asing yang mendirikan kantor di Indonesia juga mewajibkan karyawannya yang WNI untuk berbahasa asing. Hal ini menunjukkan rasa percaya diri menggunakan bahasa Indonesia.
Banyak peristiwa disekitar kita yang menunjukan bahwa kita masih terjajah secara ekonomi, mental, maupun kebebasan berbahasa.
Oleh karena itu, tanamkanlah dalam jati diri kita bahwa kita belajar sampai ke tingkat yang tinggi demi kemajuan bangsa Indonesia, bukan karena jabatan atau gaji besar. Dengan ketulusan kita dimulai dari sekarang, kita pasti bisa menunjukkan Indonesia yang merdeka sepenuhnya. Belajar bahasa asing tetaplah penting, tetapi hal itu jangan membuat kita mengabaikan Indonesia dan jati diri kita sebagai orang Indonesia yang tanahnya sudah kita tiduri dan kita kencingi. Dan kita tanamkan diprinsip kita seperti yang diucapkan oleh Jhon F. Kennedy, "ask not what your country can do for you - ask what you can do for your country" .
Mungkin hanya itu saja yang dapat aku sampaikan untuk hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-69 kepada seluruh rakyat Indonesia. Semoga bangsa ini kembali menjadi macan Asia, bahkan macan dunia. Mulai dari kesejahteraannya, kemakmurannya, keamanannya, bersih dari penyelewengan dan lain sebagainya.
Satu lagi, ingat kata bung karno, "tuhan menciptakan bangsa untuk maju melawan kebohongan elit atas, hanya bangsanya sendiri yang mampu merubah nasib negerinya sendiri" .

"Genggaman tangan rakyat menandakan merah, semangat berkobar, putih, suci dan ketulusan hati. Cintailah, hormatilah, dan hargailah bangsa ini seperti engkau menghargai diri kau sendiri sampai kau mati dan bergabung pada tanah air ini''

-sultan-

 

Sabtu, 29 Maret 2014

Kasih

Timbul rasa ketertarikan
Dari awal bersua hingga kian bertolak belakang
Banyak cerita dan angan-angan yang ku inginkan
Namun, kayu yang terbakar hingga membara saja

Jiwa ini mendorongku untuk tangguh
Dari semua tekanan yang menekan
Sehingga membuat keresahan
Di anggota tanggal dalam kalender

Lensa ini menatapnya secara linier
Dan sesekali membuang muka di hadapannya
Hanya menarik napas panjang dan mata yang membengongkan
Untuk melihat kenyataan yang bercerita ini

Berbahagialah, dikau jantan
Jantan yang separuh dari lengkungan merahnya
Perjalananku masih jauh untuk menyimpannya
Dan kuncinya adalah teguh

Kamis, 27 Februari 2014

Cincin Berapi

Media masa akhir-akhir ini sedang berseru tentang guncangan bencana. Bencana begitu extreme. Aku katakan karena berbeda dengan bencana lainnya. Contoh halnya, bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi dan lain sebagainya. Mereka-mereka yang tertekan ekonominya, pekerjaannya, dan juga pikirannya hanya berdiam diri di suatu pengungsian yang tak dapat berbuat apa-apa kecuali merenungkan nasib malangnya. Aku yang jauh lebih nyaman di banding mereka hanya melihat di layar kaca dalam berita-berita terkini. Sungguh, aku bersyukur kepada yang maha kuasa, telah melimpahkan sejuta rahmat dan karunia kepadaku. Aku yang bisa melakukan apapun yang kumau, bisa enyah kemanapun yang kutuju. Tetapi, apakah mereka-mereka bisa melakukan hal yang sama denganku? . Jujur, aku sedih dan resah melihatnya yang tak sedap di pandang mata dan di terima di hati. Ingin sekali aku melakukan kontribusi untuk mereka-mereka di sana. Tetapi hanya abun-abun saja sehinggal membara. Sumbangan hari demi hari yang dapat kudedikasika serta doa kecil dari mulutku yang dapat kuserahkan kepada tuhan sang kuasa jagat raya.

Dari bulan Agustus 2013 hingga Februari 2014 ini Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Karo tengah di hantui oleh letusan-letusan sangar. Khususnya yang terdampak langsung diDesa Sigarang-garang tepat di kaki gunungnya. Tercatat sudah memuntahkan abu vulkanik atau awan panas berpuluh-puluh kali letusan yang keluar dari mulut gunung tersebut. Bahkan dalam sehari telah memuntahkan empat kali letusan dasyat. 100-700 km/jam pergerakan abu mematikan tersebut melanda. Hingga menyerbu warga-warga yang tinggal diDesa gunung tersebut, sehingga warga tersebut mau tidak mau harus menjauh dan menyelamatkan diri dari serangan abu itu. Mereka-mereka yang banyak kehilangan anggota keluarga dan kerabatnya masing-masing, akibat terkena luka bakar awan panas/500 derajat selsius. Tempat dimana mereka menahan panasnya matahari dan berlindung saat hujan menyerang, begitu cepatnya rusak, hancur, bahkan roboh yang tak kuat pondasinya saat menahan berat beban abu, terlebih ketika hujan, ia akan sangat dominan beratnya. Abu tersebut berukuran 15-30 cm. 25 juta penduduk dan banyak titik pengungsian yang di sediakan oleh mereka-mereka dari pemerintah. Dengan jarak 5 km radius mereka harus berjauhan dengan tempat tinggalnya, sehingga mereka tak tahu apa yang terjadi pada tempat tinggal mereka masing-masing. Begitu pula dengan lahan pertanian mereka. Berpuluh-puluhan hektar lahan pertaniannya di warnai dengan abu-abu membahayakan, sehingga membusuk atau gagal panen. Kini penghasilan mereka tak sesuai dengan biasanya atau tak sesuai dengan target. Ia yang seminggu seharusnya mendapatkan beratus-ratusan kilogram, kini mereka hanya mendapatkan 12 kilogram kurang lebih. Kenyataan yang harus di terima oleh para petani, dan hanya meninggalkan kenangan, walaupun kenyataan tersebut meresahkan diri mereka masing-masing.

Tidak hanya di situ berhenti, bencana tersebut terus berjalan. Ya, Provinsi Jawa Timur perbatasan Kabupaten Kediri, Malang, Blitar, kini telah berkalaborasi dengan Provinsi Sumatera utara sebelumnya. Dampak langsung letusan gunung ini menimpal Desa Kebonrejo, Besowo, Kampung baru,  13 Februari 2014 telah meletus dari danau kawah pada pukul 22:50 WIB. Hujan abu menyebar di beberapa wilayah, seperti Kediri, Malang, Blitar, Surabaya, Ponorogo, Solo, Boyolali, Yogya, Magelang, dan masih banyak lagi lainnya. Bahkan letusan abu ini teroper sampai Provinsi Jawa Barat. Terbayangkan, abu vulkanik yang singgah di tiga Provinsi itu begitu lebih dasyatnya. Mereka yang di himbau tidak masuk dalam kawasan sekurang-kurangnya radius 10 km. Mereka yang di ungsikan adalah warga dari 35 Desa di sembilan kecamatan di Kabupaten Blitar, Kediri, dan Malang. Jumlah penduduk terpapar sekitar 201.288 jiwa atau sekitar 58.341 jiwa kepala keluarga. Menurut BNPB, mereka-mereka yang tinggal di radius 15 km banyak yang kerja bakti membersihkan abu, pasir, dan bebatuan di jalan maupun di genting-genting rumah. Pembersihan di lakukan secara swadaya agar tidak ada kecelakaan lalu lintas karena abu setebal 3-5 cm. 


Kita hidup dalam era globalisasi. Dinamika-dinamika seperti ini pasti terjadi dibumi tempat kita berada. Segala sesuatu musibah datang tak satupun orang yang mengetahuinya, begitu juga tak dapat kita hindarkan walau sekuat apapun pondasi kita, kecuali karena izin tuhan. Tuhan memberi cobaan ini pasti ada maksud tertentu, karena rencana tuhan jauh lebih baik dari apa yang kita rencanakan. Aku tau, menerima cobaan ini sukar sekali di ikhlaskan, tetapi akan lebih baik apabila kita mengikhlaskannya, meridhokan segala apapun musibah yang datang pada diri kita. Semua orang pasti resah, pasti ngeluh, tetapi tidak berkelanjutan, hal yang lebih teguh. Karena tuhan tau mereka-mereka yang ikhlas dan bersabar akan di beri nikmat yang berkelanjutan pula.

Aku pernah menonton di layar kaca, seorang nenek tua berumur sekitar 75 tahun yang terpisah dengan cucunya ketika erupsi melanda. Seorang nenek di temukan tim sar di sebuah desa dengan kondisi lelah dan sesak napas. Entah apa yang menyebabkan nenek berpisah dengan anggota keluarganya. Si nenek pun di angkut dan di beri manjaan di posko pengungsian. Beberapa jam kemudian si cucu dapat di temukan pula oleh sar dan mengalamai kondisi yang sama dengan nenek. Ketika mereka dapat berkumpul bersama-sama lagi, mereka menangis tragis dan sesekali memeluknya. Menurut kesimpulannya, mereka panik sehingga terburu-buru saat menjauh dari darius 5 km untuk menyelamatkan dirinya. Akibat kelelahan terlalu menimpal pikirannya, mereka pun terlentang di jalan, sehingga tak dapat lagi melanjutkan perjalanan. Menariknya lagi, ketika si nenek di angkut oleh sar, si nenek menenteng sendal jepitnya dari ia di bawa ke mobil hingga posko. Diposko pun si nenek menaruhnya sendal jepitnya tepat di samping ia berbaring tidur. Aku merenung, berpikir dalam, dan tak ada gerakan yang kutimbulkan. Begitu kuatnya si nenek dan si cucu untuk menghadapi rintangan yang menusuknya. Aku berpikir mereka tak putus asa dan mempunyai tekad yang tinggi. Mereka ingin selamat, mereka masih ingin beribadah tekun, dan beramal soleh. Karena izin tuhan, mereka di beri kesempatan untuk tetap hidup. Karena keajaiban lebih berpihak pada yang lebih berani dan mungkin saja tuhan akan mengalahkan pada yang lemah. 

Aku sangat berterima kasih pada tim sar yang begitu mulia pengorbanan dari beliau, meskipun bukan aku yang ia tolong. Mungkin apabila sar tak datang atau terlambat pada waktunya, si nenek dan cucu sudah tiada nyawanya. Semoga tuhan memberi kebalasan yang berlimpah kepada tim pencari korban. Karena ia layak mendapat balasan, mendapat sanjungan, dan patut di contoh dedikasinya. Sangat banyak yang dapat kutarik kesimpulan dari cerita gunung meletus itu. Dan yang pasti aku sangat bersyukur terhadap kehidupanku sekarang ini. Sinabung dan Kelud, engkau masih eksotisme dan aku yakin, zona ini akan keluar dan berakhir pada waktunya.

"Langit memang masih biru dan masa yang akan datang masih begitu terang. Pasir pantai memang mudah terperosot tetapi akan bergerak bila ombak menabrak. Kehidupanmu belum berwarna putih dan pasti ada pintu keluar. Perkara memang membuat jatuh tetapi pikiran dapat di lawan dengan perbuatan"

Minggu, 22 Desember 2013

Selamat Hari Ibu, Mah{}

Wanita itu adalah matahariku saat pagi hingga sore hari. Dan pada malam yang buta, dia bagaikan bintang hidupku. Selalu menyinariku sejak balita hingga dewasa ini dan selalu mengindahkan pemaparan dewasa ini sehingga menjadi sempurna. Beliau yang telah mengandungku selama sembilan bulan. Aku tau, selama sembilan bulan itu beliau menahan berat beban, selain itu ia merintis kesakitan, letih dalam kehidupannya, aku tau itu. Bahkan beliau yang melahirkanku, beliau mempertarungkan nyawanya untukku, beliau rela tertusuk dalam kesakitannya demiku. Dia tak kenal lelah dalam memberi kognisi kepadaku. Dia pantang menyerah dalam mendidikku, hingga aku memiliki potensi yang makro. Dia bersudi mengasuhku dalam suka dan duka. Ia selalu sabar ketika menyuapi makan dan minumku yang susah di atur ini. Ia satu-satunya manusia yang mengasihi susunya untukku.  Ia tak pernah malas memandikanku, bahkan tak pernah jijik dalam membersihkan najisku. Patriotismenya yang begitu tak terkalahkan dan rentan, ketika ideologi menaklukkannya. Selalu mahir ketika ambekan ini terlontarkan. Selalu memprioritaskan urusannya dalam dilema yang tergencit. Selalu mengalami finansial bahkan harus di hadapkan oleh inflasi demi kebutuhanku. Tidak ada yang bisa mengalahkan dedikasinya jika ada yang agresif menyerangku, ia selalu reaktif. Loyalitasnya yang sangat tinggi, dalam jeritan dan tangisanku tengah malam. Tak pernah enyah dari kenyataan dan sungguh welas asih saat aku bertingkah laku konyol. Seseorang yang mencintaiku untuk pertama kalinya dan mencintaiku penuh apa adanya, bahkan cintanya tanpa batas, tanpa kuminta.  Seseorang yang selalu mempunyai ribuan maaf bahkan tak terhingga akan hatinya kulukai, pikirannya kusedihkan, fisiknya runtuh, dan aktivitasnya rumit. Seseorang yang merindukanku saat aku lagi tak erat padanya, saat aku menjauhkan atau jauh darinya. Seseorang yang selalu mengarahkanku kejalan yang lurus. Seseorang yang selalu mengingatkanku selalu berbuat baik, jujur, sholeh, berbakti, bekerja keras, selalu bersyukur dengan apa yang ada, dan ribuan alasan lainnya. Seseorang yang membuatku menjadi kuat dan berani. Seseorang yang ikhlas menerimaku apa adanya sebelum tau seperti apa rupa, objek, dan perbuatan perilakuku. Aku sadar, sadar betapa beratnya menjadi dia, menjadi apa yang kuinginkan, kepuasan hati ini. Begitu menyusahkannya diriku untuknya, sungguh dosa banyak yang telah ku tabung, tetapi iya selalu menjadi malaikat penyabar dan pemaaf. Mereka-mereka mengatakan aku selalu di manja dan di timang, tangisan nakal dari bibirku, takkan jadi deritanya. Tangannya yang sangat-sangat halus bahkan suci, sesuci hatinya, telah mengangkat diri yang sangat berat ini, jiwa dan raga seluruh hidupku ini, rela dia berikan kepadaku. Aku ingin membalas kebaikan-kebaikannya yang telah mematikan dirinya, walau ada yang bilang "hanya memberi, tak harap kembali" . Aku ingin selalu mendoakan dia apapun doanya, menjadi yang terbaik di mata kepalanya, berbakti, dan menghadapi apapun yang menyangkut paut dengan dirinya. Kan ku lawan hingga cacat jika ada orang yang melawan dan menghina dirinya, aku akan buktikan dan aku pasti bisa, ya bisa. Dialah seseorang yang tak kunjung rampung mendoakan segala-galanya tentangku di setiap tangannya yang meminta, arah kepalanya yang ke tengokan bawah, dudukannya di atas sejadah dalam panasnya siang dan dinginnya malam. Kasihnya tak terhingga sepanjang masa dan konsolidasi denganku yang tak akan pernah retas. Ada dan tiada dirinya, dia selalu ada dalam hati yang merah ini. Aku benar-benar mencintainya, dia manusia dan wanita pertama yang kucinta, yaitu ibuku.

Sabtu, 09 November 2013

Kursimu bukan di samping ku, kawan

Tepat delapan hari sesudah  pendakian bersama, aku dan kedua kawanku tidak bisa jauh dari wana liar, yaitu tempatku dan kawanku bermain. Kami sudah merencanakannya sesudah pulang dari pendakian bersama. Hari sabtu, 1 November 2013 kami memutuskan untuk bermain kegunung Gede Pangrango, jawa barat atau di daerah puncak. Kami melewati jalur cibodas, dimana aku dan kawanku sudah pernah menapakkan kaki di jalur dan gunung yang sama. Buatku, mendaki gunung yang sudah pernah kutapakkan, adaptasikan, dan telah ku tidurkan tengah adrinya, bukan berarti gunung itu telah selesai kujelajah. Akan tetapi lebih sering kudatangi, bersua, bercengkrama pada hutan-hutan rimba dan makhluk lainnya, lebih luas pula pengalamanku, inovasiku, dan lebih mencolok serta mendalami akan di balik gunung tersebut. 

Aku memulai petualanganku yang cukup menggemblengkan diriku dan kawanku pukul 17:30 WIB. Menggunakan kendaraan motor merupakan hal yang melelahkan untuk sampai di jawa barat sana. Tetapi, dengan sarana itulah kami beranjak pergi dari lingkungan kotaku hingga tempat lingkungan alamku bermain. Kami menggunakan dua motor, aku eksklusif dan dua kawanku berdua boncengan, seperti laki-laki yang sedang  beranjak dan memberi sanjungan kepada sang betina. Baskara pun terbenam dan candra menunjukkan keindahannya pada malam itu, sekaligus menggelapi planet bumi yang kami tinggalkan untuk tetap hidup sekaligus menjadi penjelajah. Angin malam pun merasuki anggota gerak tubuh. Ia selalu setia menemani perjalananku hingga sana, sesekali membuatku mengantuk pada malam yang berbahagia itu. Kondisi badan yang melelahkan, angin malam yang merangkul konstan, asap kendaraan yang membaui, knalpot racing yang bersuara cempreng, kelangsungan itulah yang membuat bersahabat pada malam yang buta.

Dari sekian lamanya waktu berjalan, perjalanan kami di berhentikan oleh polantas dari kaum gadok, puncak. Kami di spesifikasi dan di mintai identifikasi. Cukup ekspresif bapak polisi itu memberi pengungkapan, gagasan, dan gambaran yang tepat pada kami. Kendala kami hanyalah di surat izin mengemudi, dimana kami belum mempunyai sim atau kurang dari umur 17 tahun, sehingga kami termasuk melanggar formalitas politik berkendara. Kami kena sangsi tilang. Lama kami membahas permasalah itu untuk mencari jalan tengahnya. Aku berbicara kepadanya sangatlah santai, seperti dengan kerabat dekat.Tidak pakai lama, aku memberi sinopsis dan preskriptif kepada sang polisi. Sang polisi pun sebelum kami memberi uang damai sebesar Rp.40,000 ia menahan stnk kami dan membuka harga sebesar Rp.125,000. Alhasil, aku membiusnya dengan lontaranku sehingga aku merogoh kantong dengan uang sebesar Rp.40,000 untuk dua motor atau dengan kawanku tanpa  menahan stnk kami. Kami pun memilih warung terdekat untuk lebih menikmati malam yang dingin sampai tulang-berulang dan termenungi dramatis tilangan malam itu. Polantas tersebut melakukan aktivitas secara efisien sampai rampung, entah sampai kapan. Aku hanya berimaji dan melirik visual ke sudut polantas yang komposit itu.

Gunung Gede Pangrango

Telah sampai di safanarma gunung Gede Pangrango dan waktu menjawab pukul 00:10 WIB minggu, 2 november 2013. Makan dan minum, mengisap udud sampai retas, melakukan packing, kemudian merintis ke jalur pendakian pukul 01.00 WIB. Menikmati perjalanan dengan dua kawan di tengah hutan, mengayun genggaman senter ke kiri dan ke kanan, dan seakan rival kami adalah hutan yang mengelilingi dalam jebakan. Karena pada malam hari tumbuhan melakukan respirasi, beda dengan pagi hari yang melakukan fotosintesis. Maka dari itu kami berebut oksigen pada malam yang buta itu. Dalam seperempat perjalanan kami merasakan perut yang tandus, kekeringan akan makanan. Panci, air, kompor, piring, sendok, kami siap menjadi kokki pendaki. Keluhan ini menjadi tokoh utama yang memutuskan benang mental dalam perjalanan yang tak kunjung rampung. Seiring menapak, canda tawa selalu ironis, lantaran wacana kami yang lelucon berputar pada porosnya. Sekarang.. Hening, tak bising, pikiran dan penglihatan agak kalut, bercengkrama dan sanjungan dalam hati. Terkucur sudah derasnya air keringat ini.

Kandang Badak

Pukul 06.00 WIB kurang lebih, kami sampai diKandang Badak salah satu base camp terakhir sebelum menggapai puncak. Kami melepas semua rintihan ini dalam dinginnya shelter 2400mdpl. Logistik.. Ya, hal pertama yang kami lakukan untuk mengambil makanan untuk di masak, di hidangkan, dan di makan oleh perut yang keroncong ini. Kami pun tidur dalam bivak yang tak tertutup rongga-rongganya sehingga lebih dominan angin merasuki tubuh kami ketimbang dalam tenda. Tak lama kami tidur dalam baiknya istirahat, pukul 09.00 WIB kami terbangun dalam lelahnya badan ini. Makan makanan ringan, packing, siap, segera menuju puncak pukul 10.30 WIB. Kami lebih memilih agra Gede dan lagi-lagi atis menjadi sahabat perjalanan.

Melirik terus-menerus tidak putus-putus, sampailah kami dipuncak Gede 2958mdpl pukul 12.10 WIB. Ada yang berbeda dalam pendaki, pendakian kali ini. Kami di pertemukan oleh manusia-manusia sholeh. Leader dari mereka adzan dalam teriknya matahari. Kami diajak untuk sholat dzuhur berjamaah sekaligus sholat jamak ashar. Pengetahuanku bertambah, ketika salah satu rekan mereka mengajarkanku wudhu dengan cara yang berbeda. Kami semua sholat ke arah kiblat yaitu kearah ka'bah atau ke sisi barat dan bersujud dalam kasarnya pasir bebatuan ini. Aku dan kawanku tetap mengenakan sepatu dalam sembayang. Setelah selesai beribadah, aku lupa nama dari pendaki tersebut siapa, ia seorang ustadz dari jakarta timur. Mereka meminta waktunya sebentar dari kami untuk sharing ilmu atau berceramah mengenai islam dan ibadah. Subhanallah.. Ustadz itu begitu mahirnya dalam mengungkapkan ceramahnya, begitu senangnya aku mendengarkan ia ceramah, begitu pula wawasan dan ilmu pengetahuan agamaku menjadi agak lebih dapat, di banding sebelumnya. Sekitar satu jam kami berpisah dengan rombongan mereka. Aku menikmati puncak Gede bersama kawanku sembari menatap keindahan kawah Gede, samudra awan, dan gunung Pangrango di arah barat. Tidak banyak hal yang kami lakukan, melainkan mengambil view sekitar untuk menjadi dokumentasi yang cakap ini. Kami pun turun menuju Kandang Badak pada pukul 14.10 WIB dan sesampai Kandang Badak pukul 14.50 WIB. Duduk terdiam, persendian mulai bergemetar, nafas lewat mulut yang mulai berasap, akan tetapi hangatnya parafin yang menetralisir dan meminimalisir dinginnya yang kukenal sore itu. Perut telah terisi makanan untuk sumber energi dan cokelat untuk kalori supaya kami tetap gagah akan kelangsungan kami di alam liar itu. Kami pun turun pukul 16.20 WIB, untuk menuju pos pendakian awal. Dan, pada pukul 19.10 WIB kami sampai di pos pendaftaran. Meneduh sejenak dan tidur sesaat, karena hujan mengguyur kawasan gunung Gede Pangrango dan sekitar. 

Detik-detik pait telah marasuki

Sekitar pukul 19.30 WIB kami pulang dengan baju yang basah keringat irisan hujan, celana yang kotor gabungan lumpur, sepatu yang bercorak kotoran tanah, dan pikiran kalut, kacau, tak karuan, dari kaki gunung Gede Pangrango. Mimpi utama kami adalah ingin cepat sampai pada tujuan dengan selamat, tanpa tersendat, tanpa halangan, tanpa musabah, untuk istirahat dan melanjutkan keesokannya, aktivitas sebagai seorang pelajar. Menerabas hujan malam, lantaran kami mengejar waktu. Pikiran telah terputus benangnya, indera penglihat memerah dan menghangat karena kurang istirahatnya serta tertidur dalam hitungan detik di perjalanan, anggota gerak dari ujung kepala sampai ujung kaki lesu, tak berdaya, tidak lagi bersemangat, sebab kami mendaki tektok dalam sehari tanpa istirahat yang pulih. Oh tidak, kami terjebak macet.. Perjalanan yang masih sangat jauh membuat putus asa seketika.. Lagi-lagi pikiran di hantui oleh kekacauan.. 

Sekarang kami berada dijalan Raya Bogor, Parung. Kelajuan kawanku sedikit agak ngebut, aku hanya mengikutinya dan agak sedikit lebih cepat ketimbang sebelumnya yang selalu tunggu-menunggu dalam jarak yang dekat. Tiba-tiba tersendat gas motorku.. Aku memberi indikasi kepada mereka dan mereka telah menoleh.. Aku pun terhenti dari kelajuan yang cepat dan sekali lagi teriak untuk memberi tanda bahwa bensinku habis.. Lagi-lagi mereka hanya mengangguk-aguk keduanya. Tidak.. Bensinku telah habis ludes atau mengering.. Aku mendorongnya dan bertanya dengan ibu-ibu di pinggir jalan, dimana jual bensin terdekat. Hanya kegelapan, angin malam, dan selingan kendaraan yang hanya menemaniku pada malam yang susah buatku untuk mencapai segala keinginanku.. Tidak lama kemudian aku menemukan penjual bensin eceran, dan langsung kubeli bensin itu sebanyak satu liter dengan uang sebesar Rp.7.500. Selesai sudah beban yang kuderita ini. Tetapi.. Uangku habis total.. Aku tak punya pegangan uang sama sekali karena habis terpakai untuk sebelumnya.. Ya tuhan.. Tidak mungkin satu liter ini bisa membuatku sampai dirumah, perjalananku masih sangat jauh.. Aku terdiam, termenung, sesekali berimaji tentang kawanku yang enyah meninggalkanku secara instan.. Entah penyebab dari ia meninggalkanku apa ?. Aku tetap menikmati malam yang sengsara itu secara santai dan tidak tergoyangi oleh ketakutan. Aku bingung.. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi.. Tidak ada yang bisa ku andalkan melainkan diriku sendiri.. Malangnya nasibku.. Aku merasa iba kepada diriku sendiri, astaga..

Pikiranku yang sebelumnya tak berpikir menjadi terus berpikir. Aku menaruh prinsip aku harus tetap hidup, hidup dalam keberanian, hidup dalam sendiri, tetap hidup untuk sampai rumah. Terus berpikir dalam-dalam.. Aku terus berdoa kepada tuhan dalam rongga mulut kecil ini.. Untuk di beri kemudahan, di beri jalan, di beri kekuatan, di beri keselamatan, dan perlindungan.. Aku memutuskan pikiranku yang matang ini untuk meminta uang kepada sang pengendara motor. Dengan maksud ingin meminta uang, uang untuk membeli kan bensin yang seperempat di motorku ini. Memang hal itu bodoh, tetapi menurutku itu metode yang matang dan pasti berhasil untuk aku mencapai kerumah. Aku memberhentikan motor yang sedang berhenti dijalan atau sedang lambat dijalan. Aku tidak memberhentikan yang sedang melaju cepat, karena aku berpikir ia sedang sibuk, mengejar waktu, dan yang pasti tidak akan memberi waktunya untukku.

Seseorang hendak menaiki motornya dan berlayar, aku menghampirinya dan berkata "pak, mohon maaf. Saya boleh minta uang sepuluh ribu tidak ? saya dari gunung, uang saya habis, perjalanan saya masih jauh pak, tolong saya" mukaku yang termelas. Bapak itu menjawab "waduh dek, jujur-jujuran nih, uang saya tinggal segini, tinggal dua ribu, kalau saya punya uang lebih pasti saya kasih dek, mohon maaf dek'' sambil memperlihatkan dompetnya.. benar, uangnya tinggal dua ribu rupiah. Aku melanjutkan perjalananku dan tidak menyerah begitu saja. Mungkin itu hanya ujian buatku dan aku harus tabah menjalaninya. Melaju lambat, seorang bapak-bapak berumur 40an, menurut pikiranku. Langsung saja aku berbicara hal yang sama seperti tadi. Sama.. Bapak itu mengatakan uangnya pas-pasan, tetapi menurutku ia tidak ingin memberi, sedikit kelihatan dari wajah yang tak percaya kalau diriku lagi kesusahan. Lagi-lagi aku harus di hadapi ujian yang berat. Aku terus berdoa kapada yang maha kuasa untuk di beri kemudahan.. Dan, metodeku masih kulanjutkan sampai selesai pada waktunya. Memberhentikan bapak-bapak tak berhelm dan meminta hal yang sama. Bapak itu sedikit tak percaya dan mengatakan "sebentar, depan lagi depan lagi''. Entah maksudnya apa, tetapi dalam benak pikiranku ia takut di guna-guna atau di bohongkan atau pun di labrak. Jelas, tengah malam, berpakaian tak ideal, membuat warga heran menurutku. Bapak itu belok kegang kecil dan berhenti, aku berhenti dan turun dari kendaraanku. Ia memberiku sepuluh ribu dan aku sangat berterima kasih kepadanya sekaligus berterima kasih kepada tuhan yang telah memberi ilmu tak terlihat, aku yakin ia membantuku dalam keheningan. Dengan uang tadi aku bisa membeli bensin yang hampir habis.. Aku lebih sering bertanya kepada warga sekitar dan tukang supir angkot, akan arah ciputat kemana ?. Jawaban dari mereka salah satunya "masih jauh". Pikiranku sedikit down. Aku tidak mau bensinku habis lagi, karena aku harus mendorongnya, aku tidak mau. Aku menargetkan harus mendapatkan sepuluh ribu lagi.. Lagi-lagi bapak satu itu agak tidak percaya akan sikapku. Ia tidak memperhatikan wajahku tetapi ia mendengarnya. Aku tetap mengikutinya dan berada di sampingnya. Pergerakannya sangat intelektual dan akting berhentinya yang cukup bagus karena takut, takut aku sebagai penjahat dan ada yang mengikuti dari belakang, maka dari itu ia berhenti seketika dalam hitungan detik lalu berjalan lagi hampir tiga kali ia melakukan hal seperti itu, dan yang terakhir kalinya di sebuah warung kaki lima. Aku mengatakan "pak, bapak mau bantu saya nggak ? kalau tidak yasudah!" tegasku. Lalu ia memberi sepeluh ribu kepadaku dan aku mengatakan "ikhlas gak nih pak ?". Bapak itu mengangguk dan mengatakan "yaudah gih, awas mobil". Begitu baiknya bapak itu, yang sebelumnya ku kira bapak yang sombong, tak acuh, dan menyebalkan.

Selesai sudah permasalahanku dan tidak ada beban pikiran yang membuatku takut. Aku berdoa dengan kencang di atas flyover ciputat "yaallah berikan kemudahan, keselamatan, di beri rizki yang berlimpah kepada bapak yang telah membantuku tadi yaallah". Aku berada di UIN, dan sekarang dirempoa mengisi bensin, dan melanjutkan perjalanan menuju rumah. Sesampai dirumah pukul 23.00 WIB, beres-beres, menyucikan diri, lalu tertidur dalam lelahnya tubuh.
  
Hidup Dalam kemunafikan 

Sedikit terpikir, mengapa kawan yang selalu kubanggakan, kuanggap teman sejati, teman terbaik dari yang lain, teman yang solider, begitu salah ku anggapnya ?. Kawan satu organisasi, satu keluarga, satu rasa. Organisasi ini yang salah, apa mereka yang salah masuk organisasi ini ?. Kata-kata slogan yang selalu memberikan kesenangan hati, kesetia kawanan yang berarti, kumuntahkan lepeh-lepeh. Mereka mementingkan individualisme dan idealisme, aku tak suka itu. Omongannya penuh kemunafikan dan kenyataannya tidak sederajat dengan apa yang telah di lontarkannya pada sebelumnya. Pura-pura suci dan mengatasnamakan tuhan. Membutuhkan bila tertekan, tetapi tak acuh kalau berkuasa. Aku tahu mereka sangat lelah dan ingin sampai tujuan dengan cepat, sama halnya denganku. Aku juga ingin. Tetapi disini posisiku lagi tertekan, seharusnya teman yang erat mengertikan kawannya yang sedang kesulitan. Buatku dia bukan teman, apalagi kawan. Karena teman dan kawan menurutku berbeda.

Rekaman Kecil 

  Hapus mementingkan individualisme
Begitu pula idealisme
Stop kemunafikan dan omongan slogan
Lebih baik di asingkan dari pada menyerah dalam kemunafikan
Pura-pura suci mengatasnamakan tuhan
Merintih kalau ditekan tetapi menindas kalau berkuasa
Jauh lebih baik hidup sendiri dari pada berteman dalam kebohongan menyakitkan
Aku tidak takut sendiri
Tuhan juga sendiri
Dan, dia bisa menjadi maha kuat
Karna itu


-malam mingguku, ku ambil untuk menulis blog yang penuh kesan ini. Tepat seminggu setelah perjalanan, aku membuat blog ini.